Showing posts with label steeveharyanto. Show all posts
Showing posts with label steeveharyanto. Show all posts

Sunday, October 7, 2012

Perangkat computer dalam system informasi


Perkembangan teknologi informasi sekarang ini semangkin pesat. Itu semua terjadi bukan hanya karna didukung oleh semangkin terjangkaunya perangkat IT, akan tetapi dari sisi business pressure yang semangkin kuat penetrasinya ke setiap sendi sendi kehidupan. Mau tidak mau, suka atau tidak suka bahkan tahu atau pun tidak mau tahu setiap individu yang hadir di era ini harus menerima nya sesuai dengan kepentingannya.
Penempatan perangkat IT harus dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan dimana agar tidak terjadi suatu keadaan yang justru membuat para sumber daya manusia menjadi 'stress' karna kekurangan atas informasi untuk penggunaan perangkat tersebut (lack of training)
Secara umum untuk  perangkat IT terbagi menjadi 3 bagian besar yakni :
  1. Hardware :perangkat keras yang ditempatkan /disetup untuk memudahkan user menggunakan aplikasi yang tersetup, contoh :cpu, printer, mouse, keyboard.Isi dari hardware tersebut CPU, Primary Storage,Secondary Storage, Input Tech, output Tech, Communication Tech.
  2. Software : perangkat lunak yang di tempatkan / disetup untuk memudahkan user menghasilkan hasil yang diinginknan contoh spreadsheet untuk kalkulasi biaya dan documentasi recipe dll.
  3. Dan yang terakhir adalah brainware : sumber daya manusia / user yang menggunakan kedua perangkat tersebut diatas untuk mengarahkan mereka pada hasil yang diinginkan. contoh hasil print out yang bisa dimengerti oleh department concern atau user lainnya.

Secara tingkatan / hierarchy computer dalam perkembangannya sebagai berikut :
  1. Superkomputer, adalah seperangkat computer yang memiliki kemampuan untuk mengolah / menampung dan memberikan hasil yang diinginkan user dalam waktu sangat cepat, dimana biasanya perangkat superkomputer ini ditempatkan sebagai database dari semua aplikasi yang berjalan di suatu organization militer dan lembaga penelitian negara mengingat harganya luar biasa sangat mahal dan biasanya tidak user friendly untuk dioperasikan.
  2. Mainframe, adalah seperangkat computer yang juga hampir sama dengan superkomputer yakni untuk mengolah / menampung dan memberikan hasil yang diinginkan user dalam waktu cepat dan biasanya mainframe banyak digunakan oleh organization swasta dan lebih mudah untuk dimaintenance dan lebih user friendly karna biaya untuk memaintenance masih terjangkau.
  3. Midrange, adalah seperangkat computer yang banyak kita temui kalangan perusahaan berskala lebih kecil dengan total computer yang beredar sekitar 10-15 pc.
Ketiga tingkatan diatas adalah suatu tingkat dalam IT dimana kesamaannya adalah sama, yakni sebagai penyedia data, dan kalau kita ingat atas pembahasan kita mengenai system informasi manajemen perhotelan yang terdiri dari input process and output, dimana ada yang tertulis 'Database', ketiga perangkat tersebut lah yang digunakan sebagai database atau lebih dikenal adalah server (pelayan, service). Tugasnya adalah menampung data untuk dirubah menjadi informasi.
Kemudian,
Setelah kita membahas ketiga jenis server diatas pastinya kita akan bertanya apakah setiap chef atau guest service relation yang ingin mengaccess data - data standard recipe sampai dengan data guest harus meng antri dalam suatu computer besar? Jawabannya tentu tidak.
User dalam hal ini adalah pengguna melakukan pengolahan data tersebut dengan menggunakan perangkat computer sebagai perpanjangan tangan dari database kepada user. Dalam system informasi manajemen kita menyebut nya 'Process'.
Bagaimana dengan result nya sebagai output ?  out put kita kita lakukan dengan mem printing apa yang menjadi kriteria kita atau menyimpannya dalam suatu secondary storage seperti flash disk, printer dan lain - lain.
Pengimplementasian dari IT didalam industri perhotelan sudah lama diterapkan, semuanya diperuntukan untuk mempermudah dan mempercepat kegiatan interaksi antara guest service dengan guest. Akan tetapi seiring perkembangan zaman dan business process yang terjadi serta didukung oleh demand dari hasil publikasi internal organization ke luar organization (Lihat diagram automation hotel) membuat kita harus kembali mempertimbangkan untuk meng upgrade system atau mengganti system yang sudah ada untuk lebih updated.
Pertanyaannya adalah
  1. Sampai batas mana sebuah organization perhotelan harus mengupgrade system yang ada ?
  2. Kriteria seperti apa yang dibutuhkan untuk perhotelan dalam merancang sebuah system untuk meningkat kan revenue atau occupancy dari organization ?
 Untuk menjawab dua pertanyaan tersebut diatas adalah sebagai berikut :
  1. Batas yang ditentukan adalah sampai tidak terhingga  tetapi bukan berarti tidak berimbang dengan revenue yang masuk. Jadi harus lah ditempatkan pada posisi sebijak mungkin, artinya  dimana setiap guest yang memiliki loyalitas tinggi bisa terus tercover dengan update terkini dari dirinya seperti contohnya kapan last visit nya, kesukaannya seperti apa sampai dengan last keinginannya atas perkembangan organization tersebut, personalize care. Kemudian bagi internal organization ketika user tidak lagi ditemukan kesulitan untuk meng update sampai mereview apa yang menjadi tools nya untuk tetap menjaga keloyalitas guest pada organization kita, service after sales.
  2. Kriteria yang harus diperhatikan untuk meng upgrade system adalah sbb:
  • Mampu meningkatkan daya saing organization secara eksternal.
  • Mampu meningkatkan penggunaan tools yang berkorelasi dengan department concern lainnya. Mampu membuat structure organization berjalan seiring perkembangan business pressure yang ada
Demikian lah yang harus kita perhatikan dalam setiap kali meng implementasikan sebuah system sampai dengan kewajiban kita untuk keep the system updated.
Terimakasih
Semoga bermanfaat
Senayan, 7 Oktober 2012
Steeve Haryanto Souw

Saturday, June 2, 2012

Hati nurani pemimpin kita baik diparlemen mau pun di kepresidenan.

Langkah yang diambil pemerintah untuk membatasi BBM bersubsidi pada kendaraan pemerintah, adalah tetap sasaran walau tidak bisa mereduce banyak nya pengguna BBM bersubsidi ketimbang meng konversi ke BBG. Langkah tersebut bisa di barengi dengan diteruskan menerapkan tiket transjakarta, bagi yang bertempat di Jakarta artinya setiap pegawai di jajaran PNS dengan syarat dan kondisi tertentu, (biarlah pemerintah yang memikirikan nya, saya hanya sebatas menyingkapi) diwajibkan menggunakan jasa bus transjakarta untuk pulang dan pergi ke tempat kerja nya. Dengan harapan anggaran pembelian kendaraan dinas, kemacetan di jalan bisa sedikit berkurang.

Kita coba untuk melihat, bahwa siapapun yang menjabat dan duduk dipemerintahan adalah abdi masyarakat, jadi sudah seyogyanya mengedepankan kepentingan masyarakat dari pada kepentingan individu.
Langkah kecil tetapi sangat berarti.

Penyalahgunaan BBM bersubsidi bukan hanya terjadi pada pemerintahan melainkan juga pada lapisan masyarakat paling bawah. Banyak dijumpai disetiap SPBU, beberapa oknum meminta struck atas pengisian BBM yang dilakukannya dengan cara menulis sendiri, petugas hanya memberikan lembaran kosong yang berlogo dan lain – lain.

Tidak ada habisnya kalau pemerintah tidak mengambil langkah tepat dalam menyempurnakan sudsidi ini, tetapi bukan berarti menyengsarakan masyarakat. Pemerintah dan instansi terkait serta masyarakat harus nya saling transparan, artinya kalau pemerintah ingin menaikkan harga BBM bersubsidi harus dibarengi dengan tingkat pendapatan penduduk paling bawah dan juga inflasi yang sebenar – benarnya. Bukan buatan analisa ekonom agar mendapat pengakuan dari dunia international akan kemajuan ekonomi Indonesia dan kemakmuran yang terjadi.

Hal tersebut penting untuk dilakukan, agar masyarakat ‘tidak terjepit’ pada meningkatnya kebutuhan hidup seiring meningkatnya harga BBM. Seperti contoh peristiwa yang kemarin sempat menghebohkan atas berita akan kenaikkan BBM bersudsidi akan dilakukan, itu menujukkan bahwa perhitungan pendapatan perkapita penduduk tidak lah sama dengan yang sebenarnya, sehingga terjadi ketimpangan yang luar biasa besar antara fakta dan data di lapangan dan di atas kertas.
Kembali lagi ke hati nurani pemimpin kita baik diparlemen mau pun di kepresidenan, bahwa memerintah secara transparan adalah sudah menjadi keharusan.


Terimakasih
Semoga bermanfaat
Senayan, 3 Mei 2012
Steeve Haryanto Souw


Tuesday, August 30, 2011

Perang adalah kumpulan binatang yang sedang bermimpi menjadi manusia.

Aku coba brainwash diri dengan kutipan – kutipan movie di youtube yang berkaitan dengan perang ideologi, di vietnam. Aku melihat begitu antusias, seperti dalam film – film seri yang tersiar di station televise swasta dengan back ground music dari rolling stone ‘man in black’. Seru sepertinya, berondong peluru dan saling membalas antar mereka. Diantara dua kubu yang saling baku tembak, banyak hal yang muncul, dari mulai kesenangan karna menang dan ketakutan karna kekalahan. Tetapi apa seperti itu memang adanya. Kalau kita compare dengan video amatir yang beredar di youtube.com, sedih, marah, takut dan sampai dengan meneteskan air mata terjadi. Bagaimana wajah seorang tentara amerika serikat begitu luar biasa ketakutan dan putus asa, karna serangan dari gerilyawan komunis begitu buas dalam menggempor mereka. Dan bagaimana ke ngerian yang juga tidak kalah menakutkan ketika bagaimana seorang tentara amerika menguasai keadaan tertentu dalam daerah pedalaman, dan membabi buta, seolah – oleh senjata adalah tuhannya.

Perang Vietnam merupakan murni perang ideology, dan ideology menurut aku berkaitan dengan keyakinan kita sebagai manusia yang ber intellectual dan menemukan pencerahan akan apa yang didalami. Buat aku, sesuatu yang imajiner dan setiap orang pasti sulit menjelaskannya. Semangkin dijelaskan, akan semangkin jauh dari kenyataan. Tetapi dalam perang tersebut, kenapa semuanya berusaha di ngejawantahkan dalam suatu bentuk tertentu, dimulai dengan pembagian wilayah hasil perang. Yang menjadi korban adalah manusia juga, yang menjadi bangkai layaknya binatang.
Ketika sebuah imajiner di coba di terapkan menjadi suatu kenyataan, rasa – rasanya sulit untuk dijalankan, tidak menjamin apa yang kita bayangkan baik dengan konsep kita, adalah baik bagi yang menerima. Ketika ditanyakan kepada seorang serdadu paling kejam sekalipun, apakah mereka yang inginkan ketika melewati hari tua, pastinya terjawab ‘ … dengan damai’.

Apa ada tempat yang damai dan madani, ketika semua ber lomba – lomba menerapkan pencerahan mereka?
ketika mereka ‘rasa – rasa’ mendapat pencerahan dan ingin diterapkan dalam kehidupan sekitar, alias pada diri orang lain?


Intisari dari perang ketika itu ketika sampai dibenaku adalah menerapkan imajiner menjadi kenyataan. Dan bagi serdadu amerika dan gerilyawan Vietnam ketika ditanyakan, apa yang sedang mereka lakukan sekarang, adalah membunuh terlebih dahulu sebelum dibunuh. Apa dua hal tersebut diatas merupakan dua kesimpulan untuk kwalitas hidup seorang manusia? Mungkin rasanya, binatang yang sedang bermimpi menjadi manusia.

Terimakasih
Semoga bermanfaat
Senayan, 30 Agustus 2011
Steeve Haryanto Souw

Friday, August 26, 2011

Inflasi kagetan - Jasa Penukaran Uang Pecahan Kecil

Dari tahun ke tahun sepertinya tidak ada perubahan dimana harga sembako yang tinggi terus saja menjadi alur ritme dari acara tahunan menjelang hari raya yang paling menyedot konsumsi kebanyakan masyarakat kita. Aku melihat, tanda - tanda pemerintah tidak percaya diri atas minat konsumsi rakyatnya sendiri adalah dengan tersiar berita 'Operasi Pasar', 'Aparat terkait turun ke pasar untuk check harga' dan lain - lain. Sebenarnya tidak salah, bagus, ketika seorang petinggi negara mengulurkan tangannya untuk melihat dari dekat apa yang ter kondisi kan setelah suatu kebijakan dibuat, untuk kedepannya semangkin arif dan bijak atas setiap peraturan yang di terbitkan dan berpihak pada kepentingan umum (baca: rakyatnya sendiri). Tetapi,
Apa harus terus menerus seperti itu ? dari tahun ke tahun, dari pemilu ke pemilu? kapan selesainya? Atau memang ada 'bayangan' lagi yang lebih powerfull terhadap perekonomian negara ini sehingga bayang -bayang kemakmuran dan ketenangan financial ekonomi rakyat terjadi. Hanya alam yang menjadi saksinya.

Sekarang terlihat,
di saluran televisi swasta dan pemerintah dimana terdapat jasa penukaran uang dari besar ke kecil dengan menambahkan nilainya sebagai imbal balik jasa. Aku lebih senangnya menyebutnya inflasi kagetan. Kenapa? Karna jumlah yang  menjadi imbal balik jasanya merupakan real dari kenyataan yang ingin didapat oleh masyarakat atas keuntungan batas bawah (baca: Minimal) dari product yang ditawarkan.
Kemudian, yang menjadi pemikiran ku adalah Apa mungkin ini juga yang disebutkan sebagai operasi pasar Bank Sentral terhadap peredaran uang kecil pada masyarakat ? sama seperti bulog dalam operasi pasar menghadapi lonjakan harga? atau
Bentuk kegagalan Bank Sentral dalam menempatkan peredaran uang pecahan kecil dalam masyarakat? Dan jasa penukaran adalah bagian dari inflasi yang aku lihat adalah itu lah kenyataan yang ada terhadap mata uang di negara ini.


Terimakasih
Semoga bermanfaat
Senayan, 27 Agustus 2011
Steeve Haryanto Souw

Thursday, August 4, 2011

Cepat atau lambat akan justru berbalik menyakiti dirinya sendiri.

Karpet merah telah diberikan kepada pemerintahan SBY karna telah meluncurkan pembentukan KPK untuk menempatkan  Indonesia yang berada di peringkat 110 dari 178 negara yang disurvey terhadap indeks persepsi korupsi (Antaranews, 26/10/2010) pada titik Negara terbersih di dunia. Dan BOS,Bantuan Operational Sekolah, lebih dikenal dengan BOS untuk mencetak generasi muda yang handal dalam menghadapi pasar bebas 2020 dan Masyarakat Ekonomi Asia tahun 2015.
Dimana dua program tersebut adalah realita dari apa yang telah dijanjikan ketika beliau menjabat.

Alhasil dalam perjalanannya KPK mengangkut banyak dana dari para koruptor yang terjaring dan berhasil dipulangkan ke pada Negara. Kalau sudah seperti itu, mestinya masyarakat semangkin senang dan makmur, karna budget budget tersebut akan dialokasikan untuk kepentingan umum, bukan kah itu yang menjadi tolak ukur kinerja pemerintah an dimana pun juga?
Tidak berhenti sampai disana, Pemerintah SBY melakukan program BOS dalam waktu singkat.

Dimana untuk mengejawantahkan apa yang di tuntut oleh masyarakat akan pendidikan murah. Alhasil seluruh sekolah baik swasta atau pemerintah mendapatkan buku – buku yang gratis dan terjangkau dengan harga di subsidi. Luar biasa.

Seiring berangkat nya waktu, isu BBM dan Inflasi Negara menjadi berita hangat dimana – mana dan pemerintah di tuntut kejelasannya dalam hal perekonomian. Kawin silang antara BUMN telah membawa Negara dan masyarakat pada titik kemiskinan, kurang lebih pendapat pakar BPJS mengatakan kalau sampai pemerintah tidak merealisasikan tuntutan mereka, maka sekitar 60 percent penduduk NKRI akan masuk dalam kemiskinan. Mendelik mata ini mendengarkan facta dan data yang disampaikan pada waktu itu.
Ironis memang ketika pemerintah menjalankan program BOS dan pembentukan KPK kenapa justru inflasi dan teriakan akan terkuras APBN atas subsidi BBM kembali terdengar dikalangan parlemen dan pemerintah. Usut punya usut ternyata semuanya terbenturkan pada birokrasi, bisa jadi pemulangan dana para koruptor tidak sampai serta merta dengan cepat ke kas Negara melainkan melalui birokrasi yang puanjang sekalee sehingga ketika masuk ke kas Negara, rakyat sudah melupakan atau bahkan rupiah sudah ter dongkrak dengan nikmatnya hingga perlu intervensi BI atas nya. Seperti tertuang pada kontan pada 03 Agustus 2011 dimana rentetan program BOS semangkin panjang, bukan hanya melalui mentri pendidikan dan kebudayaan setelah mendapat dana dari kementrian keuangan, melainkan sekarang muncul harus melalui keuangan daerah dan kabupaten, baru turun ke masyarakat. Yang sebelumnya langsung dari mentri keuangan ke mentri pendidikan dan kebudayaan.

Anehnya, birokrasi tersebut baru satu tahun ini berubah, semenjak tahun 2005 belom dilakukan seperti tersebut diatas.
Ya seperti yang disebut kan diatas, birokrasi terkadang menghantui negeri ini. Tidak perduli apakah Negara ini menjadi sesepuh ASEAN, tidak perduli Negara ini menjadi anggota G20 dan tidak perduli apakah Negara ini mendapat urutan ke empat dari pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia setelah korea selatan dan India, kalau pemerintah tidak memangkas birokrasi dan menempatkan controlling dalam setiap perkembangannya, saya rasa sama saja dengan meniup pasir di arah mata angin yang berlawan, artinya setiap kebijakan yang dikeluarkan, cepat atau lambat akan justru berbalik menyakiti dirinya sendiri.

Terimakasih
Semoga bermanfaat
Senayan, 04 Agustus 2011
Steeve Haryanto Souw