Dari tahun ke tahun sepertinya tidak ada perubahan dimana harga sembako yang tinggi terus saja menjadi alur ritme dari acara tahunan menjelang hari raya yang paling menyedot konsumsi kebanyakan masyarakat kita. Aku melihat, tanda - tanda pemerintah tidak percaya diri atas minat konsumsi rakyatnya sendiri adalah dengan tersiar berita 'Operasi Pasar', 'Aparat terkait turun ke pasar untuk check harga' dan lain - lain. Sebenarnya tidak salah, bagus, ketika seorang petinggi negara mengulurkan tangannya untuk melihat dari dekat apa yang ter kondisi kan setelah suatu kebijakan dibuat, untuk kedepannya semangkin arif dan bijak atas setiap peraturan yang di terbitkan dan berpihak pada kepentingan umum (baca: rakyatnya sendiri). Tetapi,Apa harus terus menerus seperti itu ? dari tahun ke tahun, dari pemilu ke pemilu? kapan selesainya? Atau memang ada 'bayangan' lagi yang lebih powerfull terhadap perekonomian negara ini sehingga bayang -bayang kemakmuran dan ketenangan financial ekonomi rakyat terjadi. Hanya alam yang menjadi saksinya.
Sekarang terlihat, di saluran televisi swasta dan pemerintah dimana terdapat jasa penukaran uang dari besar ke kecil dengan menambahkan nilainya sebagai imbal balik jasa. Aku lebih senangnya menyebutnya inflasi kagetan. Kenapa? Karna jumlah yang menjadi imbal balik jasanya merupakan real dari kenyataan yang ingin didapat oleh masyarakat atas keuntungan batas bawah (baca: Minimal) dari product yang ditawarkan.
Kemudian, yang menjadi pemikiran ku adalah Apa mungkin ini juga yang disebutkan sebagai operasi pasar Bank Sentral terhadap peredaran uang kecil pada masyarakat ? sama seperti bulog dalam operasi pasar menghadapi lonjakan harga? atau
Bentuk kegagalan Bank Sentral dalam menempatkan peredaran uang pecahan kecil dalam masyarakat? Dan jasa penukaran adalah bagian dari inflasi yang aku lihat adalah itu lah kenyataan yang ada terhadap mata uang di negara ini.
Terimakasih
Semoga bermanfaat
Senayan, 27 Agustus 2011
Steeve Haryanto Souw
No comments:
Post a Comment