Aku coba brainwash diri dengan kutipan – kutipan movie di youtube yang berkaitan dengan perang ideologi, di vietnam. Aku melihat begitu antusias, seperti dalam film – film seri yang tersiar di station televise swasta dengan back ground music dari rolling stone ‘man in black’. Seru sepertinya, berondong peluru dan saling membalas antar mereka. Diantara dua kubu yang saling baku tembak, banyak hal yang muncul, dari mulai kesenangan karna menang dan ketakutan karna kekalahan. Tetapi apa seperti itu memang adanya. Kalau kita compare dengan video amatir yang beredar di youtube.com, sedih, marah, takut dan sampai dengan meneteskan air mata terjadi. Bagaimana wajah seorang tentara amerika serikat begitu luar biasa ketakutan dan putus asa, karna serangan dari gerilyawan komunis begitu buas dalam menggempor mereka. Dan bagaimana ke ngerian yang juga tidak kalah menakutkan ketika bagaimana seorang tentara amerika menguasai keadaan tertentu dalam daerah pedalaman, dan membabi buta, seolah – oleh senjata adalah tuhannya.Perang Vietnam merupakan murni perang ideology, dan ideology menurut aku berkaitan dengan keyakinan kita sebagai manusia yang ber intellectual dan menemukan pencerahan akan apa yang didalami. Buat aku, sesuatu yang imajiner dan setiap orang pasti sulit menjelaskannya. Semangkin dijelaskan, akan semangkin jauh dari kenyataan. Tetapi dalam perang tersebut, kenapa semuanya berusaha di ngejawantahkan dalam suatu bentuk tertentu, dimulai dengan pembagian wilayah hasil perang. Yang menjadi korban adalah manusia juga, yang menjadi bangkai layaknya binatang.Ketika sebuah imajiner di coba di terapkan menjadi suatu kenyataan, rasa – rasanya sulit untuk dijalankan, tidak menjamin apa yang kita bayangkan baik dengan konsep kita, adalah baik bagi yang menerima. Ketika ditanyakan kepada seorang serdadu paling kejam sekalipun, apakah mereka yang inginkan ketika melewati hari tua, pastinya terjawab ‘ … dengan damai’.Apa ada tempat yang damai dan madani, ketika semua ber lomba – lomba menerapkan pencerahan mereka?
ketika mereka ‘rasa – rasa’ mendapat pencerahan dan ingin diterapkan dalam kehidupan sekitar, alias pada diri orang lain?Intisari dari perang ketika itu ketika sampai dibenaku adalah menerapkan imajiner menjadi kenyataan. Dan bagi serdadu amerika dan gerilyawan Vietnam ketika ditanyakan, apa yang sedang mereka lakukan sekarang, adalah membunuh terlebih dahulu sebelum dibunuh. Apa dua hal tersebut diatas merupakan dua kesimpulan untuk kwalitas hidup seorang manusia? Mungkin rasanya, binatang yang sedang bermimpi menjadi manusia.
Terimakasih
Semoga bermanfaat
Senayan, 30 Agustus 2011
Steeve Haryanto Souw
Dari tahun ke tahun sepertinya tidak ada perubahan dimana harga sembako yang tinggi terus saja menjadi alur ritme dari acara tahunan menjelang hari raya yang paling menyedot konsumsi kebanyakan masyarakat kita. Aku melihat, tanda - tanda pemerintah tidak percaya diri atas minat konsumsi rakyatnya sendiri adalah dengan tersiar berita 'Operasi Pasar', 'Aparat terkait turun ke pasar untuk check harga' dan lain - lain. Sebenarnya tidak salah, bagus, ketika seorang petinggi negara mengulurkan tangannya untuk melihat dari dekat apa yang ter kondisi kan setelah suatu kebijakan dibuat, untuk kedepannya semangkin arif dan bijak atas setiap peraturan yang di terbitkan dan berpihak pada kepentingan umum (baca: rakyatnya sendiri). Tetapi,
Apa harus terus menerus seperti itu ? dari tahun ke tahun, dari pemilu ke pemilu? kapan selesainya? Atau memang ada 'bayangan' lagi yang lebih powerfull terhadap perekonomian negara ini sehingga bayang -bayang kemakmuran dan ketenangan financial ekonomi rakyat terjadi. Hanya alam yang menjadi saksinya.
Sekarang terlihat, di saluran televisi swasta dan pemerintah dimana terdapat jasa penukaran uang dari besar ke kecil dengan menambahkan nilainya sebagai imbal balik jasa. Aku lebih senangnya menyebutnya inflasi kagetan. Kenapa? Karna jumlah yang menjadi imbal balik jasanya merupakan real dari kenyataan yang ingin didapat oleh masyarakat atas keuntungan batas bawah (baca: Minimal) dari product yang ditawarkan.
Kemudian, yang menjadi pemikiran ku adalah Apa mungkin ini juga yang disebutkan sebagai operasi pasar Bank Sentral terhadap peredaran uang kecil pada masyarakat ? sama seperti bulog dalam operasi pasar menghadapi lonjakan harga? atau
Bentuk kegagalan Bank Sentral dalam menempatkan peredaran uang pecahan kecil dalam masyarakat? Dan jasa penukaran adalah bagian dari inflasi yang aku lihat adalah itu lah kenyataan yang ada terhadap mata uang di negara ini.
Terimakasih
Semoga bermanfaat
Senayan, 27 Agustus 2011
Steeve Haryanto Souw
Karpet merah telah diberikan kepada pemerintahan SBY karna telah meluncurkan pembentukan KPK untuk menempatkan Indonesia yang berada di peringkat 110 dari 178 negara yang disurvey terhadap indeks persepsi korupsi (Antaranews, 26/10/2010) pada titik Negara terbersih di dunia. Dan BOS,Bantuan Operational Sekolah, lebih dikenal dengan BOS untuk mencetak generasi muda yang handal dalam menghadapi pasar bebas 2020 dan Masyarakat Ekonomi Asia tahun 2015.Dimana dua program tersebut adalah realita dari apa yang telah dijanjikan ketika beliau menjabat.Alhasil dalam perjalanannya KPK mengangkut banyak dana dari para koruptor yang terjaring dan berhasil dipulangkan ke pada Negara. Kalau sudah seperti itu, mestinya masyarakat semangkin senang dan makmur, karna budget budget tersebut akan dialokasikan untuk kepentingan umum, bukan kah itu yang menjadi tolak ukur kinerja pemerintah an dimana pun juga?Tidak berhenti sampai disana, Pemerintah SBY melakukan program BOS dalam waktu singkat.Dimana untuk mengejawantahkan apa yang di tuntut oleh masyarakat akan pendidikan murah. Alhasil seluruh sekolah baik swasta atau pemerintah mendapatkan buku – buku yang gratis dan terjangkau dengan harga di subsidi. Luar biasa. Seiring berangkat nya waktu, isu BBM dan Inflasi Negara menjadi berita hangat dimana – mana dan pemerintah di tuntut kejelasannya dalam hal perekonomian. Kawin silang antara BUMN telah membawa Negara dan masyarakat pada titik kemiskinan, kurang lebih pendapat pakar BPJS mengatakan kalau sampai pemerintah tidak merealisasikan tuntutan mereka, maka sekitar 60 percent penduduk NKRI akan masuk dalam kemiskinan. Mendelik mata ini mendengarkan facta dan data yang disampaikan pada waktu itu.Ironis memang ketika pemerintah menjalankan program BOS dan pembentukan KPK kenapa justru inflasi dan teriakan akan terkuras APBN atas subsidi BBM kembali terdengar dikalangan parlemen dan pemerintah. Usut punya usut ternyata semuanya terbenturkan pada birokrasi, bisa jadi pemulangan dana para koruptor tidak sampai serta merta dengan cepat ke kas Negara melainkan melalui birokrasi yang puanjang sekalee sehingga ketika masuk ke kas Negara, rakyat sudah melupakan atau bahkan rupiah sudah ter dongkrak dengan nikmatnya hingga perlu intervensi BI atas nya. Seperti tertuang pada kontan pada 03 Agustus 2011 dimana rentetan program BOS semangkin panjang, bukan hanya melalui mentri pendidikan dan kebudayaan setelah mendapat dana dari kementrian keuangan, melainkan sekarang muncul harus melalui keuangan daerah dan kabupaten, baru turun ke masyarakat. Yang sebelumnya langsung dari mentri keuangan ke mentri pendidikan dan kebudayaan.Anehnya, birokrasi tersebut baru satu tahun ini berubah, semenjak tahun 2005 belom dilakukan seperti tersebut diatas.Ya seperti yang disebut kan diatas, birokrasi terkadang menghantui negeri ini. Tidak perduli apakah Negara ini menjadi sesepuh ASEAN, tidak perduli Negara ini menjadi anggota G20 dan tidak perduli apakah Negara ini mendapat urutan ke empat dari pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia setelah korea selatan dan India, kalau pemerintah tidak memangkas birokrasi dan menempatkan controlling dalam setiap perkembangannya, saya rasa sama saja dengan meniup pasir di arah mata angin yang berlawan, artinya setiap kebijakan yang dikeluarkan, cepat atau lambat akan justru berbalik menyakiti dirinya sendiri.TerimakasihSemoga bermanfaatSenayan, 04 Agustus 2011Steeve Haryanto Souw